Langsung ke konten utama

Tanggapi Isu Pemurtadan, NU: Pemeluk Agama Lain Banyak Jadi Mualaf

Tanggapi Isu Pemurtadan, NU: Pemeluk Agama Lain Banyak Jadi Mualaf. Kamu wajar sering belajar distribusi mendapatkan banyak pengetahuan. Disini mau berbagi kepada kalian yang suka oleh keterangan terkini, semoga bisa menjadikan kamu mendapatkan pilihan jempolan internal membaca share terbaru.
Wartaislami.com ~ Rais Syuriah PBNU Masdar Farid Mas’udi menegaskan data yang dirilis oleh Irjen Pol (Purn) Anton Tabah berkenaan adanya dua juta Muslim yang murtad setiap tahun wajar jelas perinciannya. Dengan demikian, hendak kian jitu distribusi menanggapi data tersebut.
“Banyak faktor seseorang migrasi agama, bisa karena kemiskinan, perkawinan, pertemanan atau pekerjaan,” jelas ia, Ahad (24/4). Tteapi jumlah umat non mukmin yang bertambah bisa saja karena adanya perpindaha penduduk non mukmin dari luar negeri ke Indonesia.
Meski demikian, ia menjelaskan, tetap saja ini masalah yang merenggut distribusi disikapi oleh serius. Meski demikian hidayah itu lurus pemberian Allah SWT meskipun banyak orang menghendaki mereka mendapatkan hidayak distribusi memeluk Islam.
Migrasi keagamaan tiada hanya terjadi dari Islam ke agama lain, tetapi juga dari agama lain ke Islam. Dia menjelaskan, agama lain juga sering mengeluhkan banyak umatnya yang memeluk Islam.
Terkait berkurangnya jumlah pemeluk agama, negara tiada bisa bertanggung jawab secara langsung. Ini jelas merupakan tanggung jawab keluarga atau umat itu sendiri distribusi menjaga keutuhan umat.
Dia menegaskan, sesama umat Islam memang menyandang tanggung jawab moral distribusi memelihara keutuhan umat. Hanya saja umat perlu memperbaiki citra Islam agar tiada ada lagi yang memandang Islam radikal atau dekat oleh ekstrimisme.
Menurut ia, Islam merupakan agama yang confortable atau damai, atau ini yang perlu terus menerus digaungkan. Sehingga mereka yang rawan aqidah semakin yakin distribusi memeluk Islam. n Ratna Ajeng Tejomukti
Source: www.republika.co.id

Source Article and Picture : www.wartaislami.com





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bertawasul ke Imam al-Ghazali, Barang Hilang Pun Ketemu

Bertawasul ke Imam al-Ghazali, Barang Hilang Pun Ketemu . Kamu wajar sering belajar bakal mendapatkan banyak pengetahuan. Disini mau berbagi kepada kalian yang suka menggunakan kabar terkini, semoga bisa menjadikan kamu mendapatkan pilihan unggul internal membaca share terbaru. Seorang pemuda asal Tegal berusia kira-kira 36 tahun, sebutlah namanya Udin (nama samaran), hari itu sedang dilanda kebingungan. Di saat usaha membuka warung sembako yang dirintis bersama istrinya belum benar-benar stabil serta menunjukkan perkembangan yang berarti, tiba-tiba sejumlah uang yang selama ini mereka kumpulkan dari hasil berdagangnya itu hilang entah di mana. Padahal Udin belum punya rumah sendiri, melainkan masih ikut tinggal di rumah mertuanya di Cirebon. Sebab utama kebingungan Udin sebenarnya bukan karena uangnya yang hilang. Tetapi lantaran ia masih tinggal seatap menggunakan mertuanya, tentu saja orang tua istrinya itu mempersoalkan serta menyayangkan untuk kejadian hilangnya uang tersebut. Apa

Inilah Sejarah Awal Mula di Lagukannya Al Qur'an (Langgam)

Inilah Sejarah Awal Mula di Lagukannya Al Qur'an (Langgam) . Kamu perlu sering belajar hendak mendapatkan banyak pengetahuan. Disini mau berbagi kepada kalian yang suka beserta penerangan terkini, semoga bisa menjadikan kamu mendapatkan pilihan jempolan intern membaca share terbaru. Wartaislami.Com ~ Kognisi atau psikomotorik umat Islam terhadap nagham kagak selazim ilmu tajwid. Kata nagham secara etimologi paralel beserta kata ghina yang bermakna lagu atau irama. Secara terminologi nagham dimaknai bagaikan membaca Al Quran beserta irama (seni) atau suara yang indah atau merdu atau melagukan Al Quran secara baik atau benar tanpa melanggar aturan-aturan bacaan. Keberadaan ilmu nagham, kagak sekedar realisasi dari firman Allah intern suroh Al Muzzammil ayat 4,”Bacalah Al Quran itu secara tartil”, hendak tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi manusia bagaikan makhluk yang berbudaya yang menyandang cipta, rasa, atau karsa. Rasa yang melahirkan seni (juga nagham)

Inilah Sejarah Ucapan Penutup Pidato "Wabillahi Taufiq wal Hidayah"

Inilah Sejarah Ucapan Penutup Pidato "Wabillahi Taufiq wal Hidayah" . Kamu wajib sering belajar bakal mendapatkan banyak pengetahuan. Disini mau berbagi kepada kalian yang suka pada penerangan terkini, semoga bisa menjadikan kamu mendapatkan pilihan unggul intern membaca share terbaru. Wartaislami.Com ~ Saat menghadiri peringatan hari lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-46, Gus Dur diminta bakal memberikan pendahuluan oleh panitia. Setelah berbicara panjang lebar, serta hendak menutup pidatonya, Gus Dur tanpa disadari bakal mengucapkan kalimat "wabillahi taufiq wal hidayah", tapi tiba-tiba ia diam sejenak.... "Saya kok mau salah menyampaikan salam penutup, harusnya kan yang khas NU," ujarnya. "Dulu ulama-ulama NU, sepakat menggunakan wabillahi taufiq wal hidayah bakal ucapan penutup serta Nahdliyiin wajib mengikuti. Tapi sesudah musim kampanye pemilu tahun 70-an, Golkar memakai ucapan itu bakal menutup setiap pidato kampanyen